Home BERITA Pengajian Ramadhan:Puasa dan Hukumnya

Pengajian Ramadhan:Puasa dan Hukumnya

PENGAJIAN RAMADHAN : PUASA DAN HUKUMNYA

Oleh : Drs. Humaidi

Hari Selasa tanggal 23 Juli 2013 tepatnya pukul 08.15 WIB seperti biasa pengajian rutin ramadhan 1434 H diselenggarakan di Kantor Pengadilan Agama Rembang. Pengajian tersebut dibuka oleh pembawa acara Bapak H. Saerozi, S.H. dan sebagai penceramah Bapak Drs. Humaidi. Adapun ringkasan dari ceramah tersebut adalah sebagai berikut:

 

Puasa dibulan ramadhan adalah wajib hukumnya, namun Allah Swt memberikan kemudahan kepada hamba-hamba-Nya untuk tidak diwajibkan berpuasa kecuali kepada orang yang mampu saja dan dibolehkan berbuka puasa dikala ada uzur(alasan) syar’i. Adapun uzur yang dibolehkan untuk tidak berpuasa di bulan ramadhan adalah sebagai berikut:

1. Wajib berbuka dan wajib meng-qadha.

Contohnya: wanita yang dalam keadaan haid dan nifas.

Hadits dari ‘Aisyah ra yang berkata, ”Dahulu kami mengalaminya [haid], maka kami diperintah untuk mengqadha` puasa tapi tak diperintah untuk mengqadha` shalat.” (HR Muslim). Hadits ini menunjukkan perempuan yang haid wajib mengqadha` puasanya, demikian pula perempuan yang nifas, karena nifas semakna dengan haid berdasarkan ijma’ ulama.

2. Boleh Berbuka dan wajib meng-qadha

Contohnya: Orang sakit.

Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain." (QS. Al-Baqarah: 184)

Orang sakit yang khawatir bertambah sakit atau menjadi lambat kesembuhannya atau cacatnya salah satu anggota tubuh, maka dia dibolehkan berbuka. Bahkan dia dianjurkan berbuka dan makruh berpuasa karena dapat mengakibatkan bahaya, karena dia wajib melindungi dirinya. Orang yang mengalami sakit parah dibolehkan berbuka. Sementara orang sehat kalau sekedar takut letih, maka dia tidak dibolehkan berbuka jika masih memungkinkannya berpuasa dan dampaknya hanya  lelah dan letih.

3. Boleh berbuka dan wajib membayar fidyah (memberi makan kepada orang fakir miskin).

Contohnya:

-          Orang yang tua renta dan jompo

-          Orang yang sakit dan tidak ada harapan untuk sembuh

-          Orang yang melakukan suat pekerjaan yang berat.

4. Uzur yang menjadi perbedaan pendapat oleh para ulama yaitu bagi wanita hamil dan wanita menyusui.

Tidak adanya nash baik dari Al-Qur`an ataupun hadits yang secara tegas menjelaskan permasalahan tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sedikitnya ada 4 pendapat yang berkaitan dengan hukum mengganti puasa bagi wanita hamil dan wanita yang menyusui:

a. Sebagian ulama seperti Imam Hanafi, Abu Tsaur dan Abu Ubaid berpendapat bahwa kedua wanita tersebut harus mengganti puasa dan tidak perlu membayar fidyah. Mereka meng-qiyas-kan (menyamakan) wanita hamil atau wanita menyusui dengan orang yang sakit. Sebagaimana diketahui, orang yang sakit dibolehkan untuk tidak berpuasa tetapi dia harus menggantinya di hari lain, seperti disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 184 yang artinya telah disebutkan di atas.

b. Sebagian ulama yang lain seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar berpendapat bahwa keduanya hanya membayar fidyah dan tidak perlu mengganti puasa. Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata: ”Bila wanita yang sedang hamil mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan wanita menyusui mengkhawatirkan keselamatan bayinya di bulan Ramadhan, maka mereka dibolehkan untuk tidak berpuasa tetapi harus memberi makan orang miskin untuk tiap hari yang dia tinggalkan serta tidak perlu mengganti puasa di hari lain.”
c. Imam Syafi’i dan Imam Hanbali berpendapat bahwa bila wanita hamil atau wanita menyusui hanya mengkhawatirkan keselamatan dirinya saja, maka dia hanya diwajibkan untuk mengganti puasa di hari yang lain. Tetapi bila dia juga mengkhawatirkan keselamatan bayinya, maka di samping harus mengganti puasa, dia juga harus membayar fidyah. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Hanbali, keharusan membayar fidyah itu disebabkan karena batalnya puasa itu disebabkan karena menyelamatkan orang lain (bayi yang ada dalam kandungan atau bayi yang disusui).

d. Sementara itu, Imam Maliki membedakan antara wanita hamil dengan wanita menyusui. Menurutnya, wanita hamil hanya diwajibkan mengganti puasa di hari lain dan tidak perlu membayar fidyah. Sedangkan bagi wanita menyusui yang mengkhawatirkan keselamatan bayinya, dia harus mengganti puasa dan juga membayar fidyah. Dalam hal ini, Imam Maliki mengiyaskan secara murni wanita hamil dengan orang yang sakit, tetapi beliau tidak melakukan hal yang sama terhadap wanita menyusui.

Pengajian ditutup oleh Bapak H. Saerozi,S.H selaku pembawa acara pengajian ramadhan dengan bersama-sama membaca bacaan hamdalah.