Memaknai hari Sumpah Pemuda Sebagai Awal Perubahan (Adiansyah Nurahman)

Memaknai hari Sumpah Pemuda Sebagai Awal Perubahan

28 Oktober adalah hari besar dan bersejarah bagi Pemuda Indonesia, hari dimana kesadaran akan persatuan digaungkan oleh para Pemuda. Lahirnya Sumpah Pemuda bermula dari Kongres Pemuda II yang digagas oleh Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dan dihadiri oleh organisasi pemuda. Di antaranya Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Sekar Rukun, Jong Ambon, dan Pemuda Kaum Betawi.

Kongres ini dilaksanakan di tiga gedung serta tiga rapat yang berbeda untuk menghasilkan Sumpah Pemuda yang berisi

Pertama: 

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertopah darah jang satoe, tanah Indonesia;

Kedoea:

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga:

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Tokoh-tokoh Pemuda saat itu diantaranya Soenario Sastrowardoyo, Amir Syarifuddin Harahap, Mohammad Yamin, Djoko Marsaid, Sogendo Djojopoespito, Johannes Leimena, Sarmidi Mangoensarkoro, Johan Mohammad Cai, Rumondor Cornelis Lefrand Senduk, Mohammad Rochjani Su’ud, R Katja Soengkana dan Wage Rudolf Soepratman. Diadakannya kongres pemuda II menunjukan kesadaran para Pemuda untuk bersatu dan meniggalkan sifat kedaerahan.

Politik adu domba yang dilakukan oleh Belanda telah membuat masyarakat mengalami perpecahan yang berakibat tidak adanya persatuan dalam perjuangan, 300 tahun lebih Belanda mengambil kekayaan di Bumi Indonesia tercinta yang mengakibatkan penderitaan kepada rakyat Indonesia. Masyarakat yang harus membangun jalan raya dari Anyer sampai Penarukan pada masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Deandels, belum lagi pada masa pemerintahan Van Den Bosch yang mengharuskan melakukan tanam paksa untuk mengisi kekosongan kas Belanda akibat perang dan penderitaan lainnya yang dialami oleh masyarakat Indonesia.

Tanggal 28 Oktober menjadi moment penting kebangkitan, yakni berubahnya haluan perjuangan dari kedaerahan menjadi persatuan. Sumpah Pemuda merupakan pergerakan yang dilakukan oleh para pemuda-pemudi Indonesia dengan menyatakan janji satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yang didalamnya terkandung Nilai gotongroyong, patriotisme, musyawarah, cinta tanah air, kekeluargaan, persatuan, kekeluargaan, cinta damai, dan tanggung jawab.

Isi sumpah pemuda dihasilkan dari pikiran-pikiran pemuda yang menginginkan persatuan, kebanggaan akan bahasa dan bangsa Indonesia. Sudah seharusnya sebagai pemuda generasi penerus bangsa, isi dari Sumpah Pemuda benar-benar dihayati dan diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda yang memiliki semangat dalam melanjutkan perjuangan, Pemuda yang tidak hanya dilihat dari umur, akan tetapi Pemuda adalah siapapun yang memiliki jiwa semangat muda dan cinta tanah air.

Tanggal 28 Oktober yang diperingati sebagai hari sumpah pemuda merupakan refleksi tentang apa yang telah dilakukan Pemuda saat ini. Memperingati hari sumpah Pemuda tidak hanya dilakukan dengan melaksanakan upacara atau perayaan yang bersifat eouforia semata. Memaknai sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober sejatinya adalah memahami makna yang terkandung pada Isi Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda menekanakan akan pentingnya mencintai tanah air yakni tanah Indonesia, menekankan pentingnya keutuhan dan persatuan bangsa Indonesia dan menekankan kecintaan dan rasa bangga terhadap Bahasa Indonesia.

Berkaitan dengan dunia peradilan, menghayati, memaknai dan mengamalkan isi dari Sumpah Pemuda wajib dilakukan bagi setiap Insan peradilan. Bagaimana tidak, Peradilan adalah wakil tuhan dimuka bumi yang dituntut untuk mengadili dan memberikan putusan yang seadil-adilnya bagi para pencari keadilan, sehingga apabila Insan peradilan tidak mampu menghayati dan menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, maka sama saja menghianati isi dari Sumpah Pemuda yang menekankan pentingnya keutuhan dan persatuan bangsa Indonesia. Bagaimana persatuan akan dapat tumbuh dalam setiap Insan masyarakat Indonesia, apabila keadilan tidak bisa didapatkan.

94 tahun bukanlah waktu yang singkat, sudah saatnya para pemuda Indonesia mulai berbenah. oleh sebab itu, tanggal 28 Oktober adalah moment yang tepat untuk intropeksi dan lebih menghayati serta memaknai apa arti dari Sumpah Pemuda yang sesungguhnya.

 

 

Adiansyah Nurahman, S.H., M.H

CPNS Analis Perkara Peradilan Pengadilan Agama Rembang